apakah kalian tau gereja Setan yang ada di pasteur??
Menguak Misteri "Rumah Gurita" Dan Kesan Angker Di Dalamnya
Butiran air hujan menerpa wajahku saat melintas di Jalan Layang Paspati
dengan menaiki motor tadi pagi. Ini terjadi lantaran kaca helm tidak
ditutup. Cukup merepotkan memang, dan tentunya membuat mata perih. Tapi
kalau kaca helm ditutup, lebih merepotkan lagi karena pemandangan jadi
terhalang. Baban, wartawan tangguh dari detikbandung.com sudah berada di
depan dengan motor Shogun kesayangannya. Sepertinya dia juga mengalami
hal yang sama, tertimpa butiran hujan yang tampak kurang bersahabat.
Jaket yang dipakainya sedikit berkibar, pertanda angin begitu kencang.
Hari itu, meski diguyur hujan gerimis, kami bertekad berangkat menuju
Komplek Perumahan Sukadamai di kawasan Pasteur untuk mengungkap misteri
rumah Gurita yang kembali ramai dibicarakan di jagat maya.
Ide mengungkap misteri rumah Gurita memang dilontarkan Baban hari Minggu
(1/2) lalu usai meliput ekspos kasus kejahatan jalanan selama 10 hari
di Polresta Bandung Barat. Mantan aktivis kampus yang fotonya pernah
nampang di Harian Metro Bandung (sekarang Tribun Jabar) tahun 2003 silam
itu mengaku penasaran dengan keberadaan rumah gurita. Konon,
berdasarkan hasil pencariannya di sejumlah blog, rumah tersebut
terbilang angker. Bahkan, ada juga yang menyebut rumah gurita sebagai
tempat ibadah aliran sesat. “Kang, saya besok menulusuri rumah gurita.
Kantor sudah setuju. Akang mau ikut?” ajak Baban. Penasaran dengan
cerita misteri di balik rumah gurita, aku pun mengamini ajakannya. “Saya
pagi-pagi kang. Bagusnya jam berapa?” tanya Baban mempertimbangkan
waktu. “Bagusnya jam 9 aja Ban. Kalau jam 8, saya nganter anak dulu,”
jawabku diiyakan Baban. “Besok kita kontak-kontak lagi,” ujar Baban.
Tadi pagi, pukul 08.00 WIB aku mengontak Baban, memastikan waktu dan
tempat janjian. Baban memberi usul agar kita bertemu di Gedung Sate,
tepatnya di sekitar bakso Cuankie tempat biasa mangkal kawan-kawan
wartawan. Aku menyepakatinya. Setelah mengantar anak ke TK, aku langsung
menyalakan motor dan meluncur ke Gedung Sate. Sial, gara-gara terjebak
macet di kawasan Samsat perempatan Soekarno-Hatta, aku terlambat 10
menit tiba di Gedung Sate. Baban sudah menunggu. Sejenak mengisap rokok,
kami akhirnya berangkat karena khawatir hujan keburu turun. Benar saja,
baru saja beranjak hujan sudah mengguyur. Tidak begitu deras memang,
tapi cukup mengganggu. Sedikit kuyup, kami tiba di Komplek Perumahan
Sukadamai tidak jauh dari Hotel Grand Aquila. Tanpa mengalami banyak
kesulitan, kami sampai di seberang rumah tersebut. Sepi. Tak ada
aktivitas di rumah megah namun terlihat tak terurus itu. Baban
mengeluarkan kamera HP, aku mengikuti langkahnya. Setelah mengambil
beberapa gambar rumah gurita dari depan, kami bertanya pada seorang ibu
yang sedang menyapu mengenai riwayat rumah tersebut. Tidak banyak data
yang diperoleh. Ia hanya mengatakan, rumah gurita tersebut berada di
belakang rumah di Jalan Sukadamai No 6 dan 47. Sementara pintu masuknya
dari rumah No 6. Ibu itu lantas menyarankan kami bertanya kepada pemilik
kios, tidak jauh dari tempat kami berdiri.Sebelum beranjak, kami memperhatikan terlebih dulu detail rumah itu.
Disebut rumah gurita, karena di atas rumah bertengger patung gurita
menutupi hampir seluruh atapnya. Patung gurita itu berwarna gelap,
sangat kontras dengan dinding rumah yang berwarna putih kusam. Bisa
terlihat dari kejauhan, karena bentuk rumahnya yang megah dan tinggi,
lebih tinggi dari rumah utama. Dua buah kaca besar bergambar kartu King
dan Queen sekop, menghiasi bagian depan rumah tersebut. Di sebelah kaca
utama terdapat gambar lelaki berjanggut. Tak jauh dari situ, terpasang
lagi dua kaca yang masih bergambar kartu King dan Queen, kali ini dalam
ukuran lebih kecil. Kaca bergambar kartu King dan Queen itu dikelilingi
lukisan 8 wajah, 6 di atas dan 2 di bawah. Entah lukisan wajah siapa
yang terpasang di kaca itu. Yang jelas, lukisan masing-masing wajah
berbeda satu sama lain. Tidak hanya bisa dilihat dari Jalan Sukadamai,
rumah gurita juga bisa dilihat dari Jalan Sukagalih. Dari sana, terlihat
bagian belakang rumah dan patung gurita yang lebih jelas. Sementara
dari Jalan Cipedes Selatan, terlihat bagian kaca pinggir rumah bergambar
orang sedang menaiki kereta kuda.
“Rumah itu kepunyaan Pak Frans. Tapi orangnya jarang datang. Kalau tidak
salah, sebelum Hotel Grand Aquilla dibangun, rumah itu sudah ada,” kata
Yana, 37, pemilik kios yang ditunjukkan ibu tadi. Menurut Yana, karena
bentuknya yang aneh, banyak orang yang bertanya-tanya mengenai rumah
tersebut. “Banyak yang datang. Terus nanya yang aneh-aneh. Katanya
dibilang rumah setan. Tapi, sejak saya buka kios tahun 1991, belum
pernah ada sekelompok orang datang ke rumah itu,” kata Yana. Sebelum
berbincang, kami memesan dua gelas kopi. Visto, 40, seorang house
keeping Hotel Grand Aquilla yang kebetulan sedang berada di kios
mengatakan, rumah tersebut memang menjadi perhatian banyak orang,
terutama warga luar Bandung. “Warga Jakarta banyak yang sengaja menginap
di Hotel Aquilla untuk melihat rumah gurita. Mereka nanya keberadaan
rumah itu,” katanya. Cukup lama kami berbincang dengan Yana dan Visto.
Namun, misteri rumah gurita itu sama sekali belum terbuka. Baik Yana
maupun Visto mengaku hanya mendengar selentingan saja mengenai
keberadaan rumah tersebut. Akhirnya, kami memutuskan mendatangi rumah
Jalan Sukadamai No 6 yang disebut satu-satunya pintu masuk rumah gurita.
Hujan masih terus mengguyur dan kopi pun sudah habis diminum.
Tepat di depan rumah Jalan Sukadamai No 6 kami berhenti. Aku menekan bel
yang terpasang di tembok sebelah kanan pagar. Baban berteriak
mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Sekali lagi Baban berteriak dan kali
ini pintu garasi terbuka. Seorang lelaki tua keluar menyapa kami dari
balik pagar. Ia tidak mau membuka pagar. “Kami wartawan pak, mau
tanya-tanya soal rumah gurita,” aku membuka pembicaraan. Baban
menimpali. “Iya pak, mungkin kita bisa masuk melihat-lihat rumah,” kata
Baban. Lelaki itu menolak dengan halus. Dia mengaku tidak bisa
mengizinkan kami masuk karena pemilik rumah sedang tidak ada. “Kebetulan
yang punya rumah tidak ada,” jawab lelaki itu. Pintu pagar masih
tertutup rapat.“Ga apa-apa pak, kami mengerti. Bisa ngobrol sebentar?
Kita mau tahu soal rumah itu, sekalian meluruskan isu yang beredar
tentang adanya kegiatan ajaran sesat di rumah itu,”kata Baban. “Ah,
tidak benar. Memang, saya juga dengar kalau rumah ini ramai dibicarakan
di internet. Katanya rumah setan lah, atau angker. Tapi semua tidak
benar,” jawab lelaki berambut pendek itu
Menurut dia, rumah tersebut memang milik Frans. Dulu, kata dia, Frans
berprofesi sebagai pelaut. Itulah alasannya, kenapa di rumah tersebut
bertengger patung gurita. “Pak Frans itu pelaut dan lebih banyak
menghabiskan waktu di lepas pantai. Patung gurita itu dibangun menutupi
rumah karena beliau senang gurita. Selain gurita juga ada patung ular,
dan kumang,” terang lelaki itu. Lelaki itu menambahkan, patung gurita
itu juga berfungsi sebagai tempat makan. “Kalau ada acara, Pak Frans dan
teman-temannya, berkumpul di bawah patung gurita itu,” katanya. Di
tengah pembicaraan, seorang lelaki lagi, kali ini tampak berusia lebih
tua, keluar dari garasi. Ia memperhatikan kami bertiga namun tidak
mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya sejenak, ia kembali masuk. Tak
berapa lama kemudian, lelaki yang berbincang dengan kami dipanggil
masuk. “Wah sial, kita tak sempat menanyakan namanya,” sesal Baban. “Iya
Ban, soalnya keburu dipanggil masuk,” jawabku. Karena belum sempat
pamit dan menutup pembicaraan, kami berharap lelaki itu keluar lagi. Aku
bergeser agak menjauhi Baban, kembali memperhatikan kondisi rumah.
Baban masih berada di depan pagar. Dari luar, aku mendengar percakapan
di dalam garasi. Namun tidak begitu jelas. “Wah Ban, kayaknya si bapak
tadi lagi diceramahin, gara-gara banyak ngomong,” ujarku. “Iya Kang,
sigana mah,” timpal BabanKami masih menanti lelaki itu keluar lagi dan bisa melanjutkan
pembicaraan. Penantian berujung baik. Lelaki tadi keluar, kali ini
bersama tiga penghuni lainnya. Satu lelaki tua yang memperhatikan kami
tadi, dan dua wanita. Baban tersenyum, bermaksud mendekati lelaki tadi.
Di luar dugaan, lelaki tua itu marah. Dengan nada tinggi, dia meminta
kami pergi. Suaranya bergetar. Ia juga berusaha mendekati Baban. “Rek
naon deui ieu teh? Geus, euweuh nanaon!!” teriak lelaki tadi sambil
mendekati Baban dengan menaiki motor. Kontan saja, sejumlah warga keluar
mengerumuni kami, termasuk seorang pedagang kupat tahu yang sedang
mangkal di depan Kantor Pos Cabang Cipedes. Baban sedikit mundur. “Ngga
Pak, sudah, kita juga mau pulang,” kata Baban. Aku mendekati Baban dan
berusaha menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumah tersebut. “Kita kan
sudah tanya sama bapak, siapa yang bisa diajak bicara soal rumah
gurita. Kalau bapak keberatan tidak apa-apa,” aku mencoba menjelaskan.
“Iya!! Tapi semua tidak benar. Tidak ada apa-apa di rumah ini,” kata
lelaki itu, masih dengan nada tinggi. Tiga penghuni rumah lainnya
berusaha menenangkan. Bahkan, lelaki tua lain yang belakangan diketahui
bernama Adun, menyuruh temannya itu pergi. “Geus indit maneh!!” teriak
dia. Beberapa warga merangkul kami berdua agar menjauh dari rumah.
Namun, kami masih ingin menjelaskan maksud kedatangan ke rumah tersebut.“Sebentar pak. Kita bukan ingin memperburuk keadaan, tapi justru ingin
meluruskan pemberitaan miring soal rumah gurita yang banyak dibahas di
internet,” kata Baban. Aku mengiyakannya. “Iya pak, kami juga datang ke
sini baik-baik dan meminta izin terlebih dulu. Jadi bapak tidak perlu
marah-marah,” aku menimpali omongan Baban. Lelaki itu tidak menjawab.
Wajahnya agak memerah. Napasnya juga tersengal-sengal. Di atas motor,
dia menatap kami. Penjelasan kami kemudian ditanggapi oleh seorang
wanita bernama Leni yang keluar bersama lelaki tadi. “Silakan saja orang
menilai macam-macam, itu hak mereka. Tapi tidak ada apa-apa di sini.
Ini hanya rumah biasa,” kata dia. Selang beberapa menit kemudian, lelaki
yang memarahi kami pergi. “Maaf, ibu penunggu rumah ini,” tanyaku.
“Iya, saya kerabatnya,” jawab dia. Aku dan Baban lantas menyampaikan
maaf jika dianggap mengganggu ketenangan penghuni rumah. “Oke bu, kalau
memang kami tidak bisa masuk, tidak apa-apa. Maaf kalau kami mengganggu
ketenangan ibu,” ujarku sekalian pamit. Kami bersalaman. Ibu Leni pun
mengucapkan maaf atas kejadian tadi dan menggembok pagar rumah.Sejenak, kami kemudian berbincang dengan warga. Niat memecahkan misteri
rumah gurita langsung dari sumbernya gagal. Baban mengajak pergi mencari
rumah RT setempat. Setelah bertanya kepada sejumlah warga, kami
menemukan rumah RT 5 RW 5 Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Sukajadi.
Namanya Ibu Afnizar, 57. Dengan ramah, Afnizar menceritakan soal rumah
gurita tersebut. Menurut Afnizar, kabar di internet yang menyatakan di
dalam rumah gurita terdapat aktivitas sekte terlarang tidak dapat
dibuktikan. “Saya memang pernah mendapat kabar dari internet bahwa di
rumah tersebut ada sebuah sekte atau kelompok, tapi sepengetahuan saya
tidak ada aktivitas seperti di internet di tempat tersebut,” kata
Afnizar. Dia lantas membuka buku data penghuni rumah di RT 5. Data itu
menyebutkan, pemilik rumah gurita bernama Frans Halimawan, 62, dan
istrinya bernama Leni Sudrajat. Afnizar menambahkan, selama ini, rumah
tersebut ditempati oleh tiga orang, dua perempuan dan seorang laki-laki.
“Selama ini yang saya kenal pemilik rumah cukup baik,” tutur AfnizarAfnizar kemudian mengatakan, pemilik rumah tersebut memang tinggal di
Jakarta bersama kedua anaknya masing-masing David dan Daniel. “Empat
tahun menjabat sebagai ketua RT, saya tidak pernah mendapatkan laporan
warganya terkait dengan isu yang beredar di internet tentang rumah
gurita,” kata dia. Pencarian data selesai. Setelah merasa cukup
mendapatkan data pelengkap, kami pamit. Meski tidak puas dengan hasil
liputan, kami tetap akan menuliskan misteri rumah gurita menjadi sebuah
berita lewat sumber-sumber lain. Siang itu pukul 12.00 WIB. Hujan masih
juga belum reda. Melintasi Jalan Pasteur, butirannya kembali menerpa
wajah kami. Hmmmm, berusaha memecahkan misteri rumah gurita bersama
Baban cukup menyenangkan juga
Cerita lain Tentang Rumah Gurita
Cukup banyak isu yang beredar mengenai Rumah Gurita. Namun keangkeran,
isu mengenai gereja dan tempat pemujaan setan yang paling sering
dibicarakan orang. Tidak sedikit pula orang yang memperingatkan ketika
ada orang yang mengatakan dirinya ingin ke sana hanya dengan alasan
‘penasaran’. Namun ketika orang yang memperingatkan itu ditanya, banyak
yang menjawab bahwa mereka mendapat kabar tersebut dari teman, kerabat,
atau internet, bahkan hanya sedikit dari mereka yang pernah melihat
Rumah Gurita secara langsung.Ketakutan? Kegelisahan? Atau, hanya sebuah ketidakpastian informasi yang ada mengenai Rumah Gurita tersebut?Simpang siur mengenai ‘misteri’ Rumah Gurita memang menjadi pembicaraan
tersendiri oleh orang yang tinggal di Bandung. Namun warga sekitar rumah
tersebut telah memperlihatkan raut muka bosan dengan pertanyaan
seperti, “Apa benar rumah tersebut angker? ”. Beberapa orang di situ
juga mengaku sering sekali ditanyai pertanyaan seperti itu entah itu
dari orang biasa atau dari orang-orang dengan alasan ‘penasaran’ akan
rumah tersebut.Warga di sekitar situ memang tidak pernah melihat keanehan dari Rumah
Gurita. Warga melihat rumah itu sebagai rumah biasa dengan patung gurita
di atapnya. “Patung itu sebenarnya dipakai buat tandon air, di dalam
kepalanya itu ada wadah untuk menampung air,” ungkap Afnizar, selaku
ketua RT di wilayah tersebut.
Memang benar bahwa patung yang ada di atas rumah tersebut adalah patung
Gurita, lengkap dengan kepalanya yang menggelembung dan
tentakel-tentakelnya yang seolah sedang memeluk atap rumah tersebut.
Kesan horor mungkin ditampilkan oleh dinding putih yang sudah sedikit
mengelupas dan kekuning-kuningan.
Asal mula nama “Rumah Gurita” sendiri sepertinya bukan berasal dari si
pemilik rumah atau warga sekitar. Warga lebih mengenal bentuk patung
yang ada di atas rumah tersebut sebagai ‘cumi’, salah satu bukti bahwa
warga tidak menamai rumah itu dengan “Rumah Gurita”, kalau memberi nama
mereka pasti memberi nama rumah tersebut sebagai “Rumah Cumi”.Ketika ditemui di rumahnya di daerah Sukagalih, Afnizar juga mengatakan
bahwa rumah tersebut juga pernah diliput oleh salah satu stasiun
televisi. Selaku ketua RT di wilayah tersebut, Afnizar juga menyatakan
bahwa dirinya tidak pernah mendengar ada keluhan ataupun laporan-laporan
tentang keanehan dari rumah tersebut.Selama Afnizar menjabat jadi ketua RT, memang banyak orang yang
bertanya-tanya mengenai rumah tersebut. Mulai dari mahasiswa yang
penasaran dan ingin meneliti sampai orang yang berasal dari luar kota.
Dia juga mengatakan bahwa semuanya memiliki pertanyaan yang tidak jauh
berbeda, tidak jauh-jauh dari mencari kebenaran dari isu yang tersebar
mengenai rumah itu.Sebuah pengalaman yang unik mungkin ketika dia didatangi seseorang yang
ingin beribadah di gereja di dekat situ. “Dulu pernah ada orang yang
datang ke sini dan ingin mendaftar untuk beribadah di gereja. Nah saya
juga bingung, kenapa dia jauh-jauh datang ke sini, memangnya tidak ada
gereja lain?” kata Afnizar.“Yang paling aneh, dia justru ingin mendaftar ke saya untuk ikut suatu
jemaat. Nah sayanya bingung, kenapa daftarnya ke sini? Kalau mau ikut
kenapa pakai daftar? Kalau beribadah ya ibadah saja, nggak usah daftar
‘kan?” lanjut Afnizar mengenai ceritanya.Dari penjelasan Afnizar, sepertinya orang yang datang kepadanya
mendengar isu bahwa Rumah Gurita adalah sebuah gereja, bukan rumah
tinggal.Afnizar juga mengatakan bahwa di dalamnya itu ada yang menempati. Meski
pemilik aslinya jarang di rumah, ada orang yang menempati rumah
tersebut. Terlihat kosong karena yang menempati rumah tersebut jarang
keluar rumah. “Sudah terlalu tua, kasihan karena naik turun tangga
terus,” ucap Afnizar.“Dulu sering ada yang iseng dengan membunyikan bel, tapi ketika dilihat
orang yang membunyikan bel tidak ada. Makanya sekarang dia tidak mau
membukakan pintu ketika ada orang yang berkunjung.” Sebuah pernyataan
dari Afnizar yang mungkin menjawab pertanyaan beberapa orang yang tidak
pernah bertemu langsung dengan penghuni rumah tersebut
Misteri rumah Gurita dari sumber lain

Setelah kami istirahat sejenak untuk menenangkan diri, kembali kami
tertantang dengan seucap kata dari salah satu teman kami, yaitu RUMAH
GURITA. Perjalanan kami lanjutkan, menyusuri sunyinya kota Bandung kala
itu. Sepanjang fly over Pasoepati, kami hanya fokus dengan 1 hal..
MENTAL.Bermodalkan cerita dari mulut ke mulut, kami berhasil menuju areal jalan
menuju lokasi yang kerap menimbulkan rasa penasaran khalayak umum
tersebut (posisi masih di seberang jalan komplek menuju lokasi, tepatnya
di seberang Hotel Tropicana)."Yang mana sih gangnya?, ada yang tau gak?". Dimana, dimana, dan dimana,
itu kata yang sempat kami perdebatkan. Padahal dengan jelas aku sendiri
yang pernah mencoba pergi ke rumah tersebut (ke depan rumah gurita),
menjadi sangat bingung, linglung, dan pusing sekali (mungkin ini yang
disebut "pagar" oleh orang zaman dahulu. Fungsinya membuat linglung
orang yang berniat mendatangi area yang dipasangi "pagar" tersebut.
Suasana mistis mulai terasa saat itu). Lalu dengan saranku, lebih baik
kita putarkan saja dahulu arahnya, agar kita lebih mudah mencari
gangnya.Perasaan linglung kami mencapai puncaknya!! sangat jelas terasa... Kami
merasa yakin, bahwa gang tempat masuk menuju rumah gurita, ada di
sebelum hotel tropicana (itu kami lihat ketika kami masih di jalur
seberang). Dan ketika kami hampiri, gang itu menjadi gang yang berbeda,
suasananya, semua menjadi beda (logikanya, apabila kami salah mengira
gangnya di sebelum hotel, pastilah salah seorang dari kami menyadari
karena mungkin salah satu dari kami ada dalam keadaan sadar yang
"wallahualam bissawaf" tidak terkena efek "pagar" tersebut. Namun tidak
ada satupun).Akhirnya, kami meneruskan perjalanan dan maju perlahan. Tiba2, aku
terkejut! bahwa gang yang pernah ku masuki untuk menuju rumah tersebut,
tiba2 berada di sebelum pom bensin pasteur. Heran bercampur kaget,
kenapa bisa gang tersebut berpindah? padahal dengan jelas, saat dulu aku
pernah kesana, itu berada di sebelum tropicana!Namun sayang, mungkin karena niat dan iman kami yang masih lemah,
"pagar" itu menang. Entah mengapa, pintu gerbang komplek itu tiba2
dijaga oleh satpam yang bisa dibilang, wajahnya dingin, hitam dan pelit
senyum. Disitu kami sempat berunding, apakah mau diteruskan atau tidak,
karena tekanan mistis begitu kuat saat mencapai gerbang tersebut. Dan
akhirnya, ketua kami memilih untuk mengalah (alasannya, knalpot motor
satria fu teman kami ditakutkan mengganggu warga komplek, karena sangat
bising. Namun, sampai saat ini pun aku yakin, dia mengerti sesuatu).
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, karena waktu sudah menunjukan
pukul 01.00 WIB.Kami mulai menyusuri fly over kembali dengan kecepatan yang santai.
Mungkin, karena mereka memperingatkan (atau tidak tahu apa), punggung
sebelah kiriku dan temanku terasa berat sekali, dan itu terjadi
bersamaan!. Teman yang ku bonceng berkata "Wah, ada yang ikut nih". Aku
yang sudah terbiasa dengan kata2nya (temanku itu salah satu yang bisa
merasakan), tidak heran, dan aku pun percaya. Aku hanya berfikir,
mungkin mereka memberi peringatan atas apa yang kami lakukan.Sepanjang jalan, aku terus bergumam. Mungkin yang ikut bersamaku, adalah
"penjaga" dari rumah gurita tersebut yang diutus, karena mereka tahu
kami akan mengusik ketenangan mereka. Namun seiring berjalan, pegal itu
menghilang, dan kami kembali tidak merasakan pegal. "Kali ini mungkin
aku belum berhasil memasuki kembali areal rumah itu. Namun suatu hari,
aku akan melakukannya lagi dan berhasil", pikirku.
nb :Sebelumnya, aku mengenal rumah gurita adalah "gereja setan" dari mantan
pacarku yang kebetulan beragama Kristen, jadi dia mengetahui lebih
detail bagaimana gereja setan itu dari kebaktiannya di Gereja.Bagi yang belum pernah masuk areal kompleknya, sedikit gambaran, rumah
gurita tersebut bila dilihat, tidak mempunyai pintu masuk yang umum.
Analisa ku, hanya satu pintu masuknya yaitu rumah yang bernomor "666"
(koreksi jika salah), karena pernah aku berjalan mengelilingi areal
rumah gurita tersebut, nihil ! tak ada satu pun jalan.Tepat didepan rumah tersebut, ada sebuah bengkel mobil, dan berada di
jalan yang buntu. Kondisi rumahnya sendiri, meski terhalang rumah 666
tersebut, tepat di atas genting bisa kita lihat kaca patri yang
bergambar (maaf sekali untuk pembaca sekalian, bagi saudaraku yang
beragama Kristiani, maaf sekali) Yesus, menyembah lucifer dan salib
terbalik (itu mantanku yang memberi tahuku sampai dia menangis
ketakutan), dan ada kaca patri yang bergambar 4 raja2 di dalam kartu
remi: raja sekop, raja hati, raja keriting, raja wajik (bila tidak
salah, salah satu dari raja2 tersebut ada raja Daud. Bisa search di
internet).